KPM STAIMAS Wonogiri Dorong Pemilih Muda Pokoh Kidul Tingkatkan Literasi Demokrasi
Wonogiri — Generasi muda tidak cukup hanya menjadi penonton dalam proses demokrasi. Mereka perlu memahami bahwa satu suara merupakan bagian penting dalam menentukan arah kepemimpinan dan masa depan bangsa. Pesan tersebut mengemuka dalam Sosialisasi Pemilu Muda: Edukasi Pemilih Pemula yang digelar Kelompok 1 Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) STAI Mulia Astuti (STAIMAS) Wonogiri di Balai Desa Pokoh Kidul, Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa KPM bersama Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan STAIMAS Wonogiri untuk membangun kesadaran demokrasi di kalangan generasi muda, khususnya pemilih pemula. Peserta berasal dari tujuh kelompok karang taruna di Desa Pokoh Kidul dengan rentang usia sekitar 15–25 tahun.
Kelompok usia tersebut dinilai penting mendapatkan edukasi karena sebagian di antaranya telah memasuki usia pemilih atau akan menjadi pemilih dalam pemilu mendatang. Pemahaman sejak dini diharapkan dapat mendorong lahirnya generasi yang tidak apatis terhadap proses demokrasi, mampu memilah informasi, serta menggunakan hak pilih secara cerdas dan bertanggung jawab.
Ketua Kelompok 1 KPM STAIMAS Wonogiri, Eka Agus Widianto, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan memberikan manfaat nyata bagi peserta, terutama dalam meningkatkan pemahaman mengenai pemilu dan pentingnya partisipasi generasi muda. “Harapannya, materi yang nantinya disampaikan pemateri dapat bermanfaat bagi seluruh partisipan,” imbuh Eka.
Apresiasi juga disampaikan Sekretaris Desa Pokoh Kidul, Agus Riyadi. Ia menilai kolaborasi antara mahasiswa KPM dan KPU menjadi langkah positif dalam memberikan pendidikan politik kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
“Terima kasih kepada mahasiswa KPM dan KPU yang mau mengisi sosialisasi untuk memunculkan pemilih yang bijak di Desa Pokoh Kidul,” ungkap Agus.
Materi pertama disampaikan Doni Hafidhian dari KPU. Doni mengajak peserta memahami bahwa suara pemilih memiliki posisi penting dalam sistem demokrasi. Hak pilih bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari proses masyarakat dalam menentukan pemimpin dan arah kebijakan pemerintahan.
Menurutnya, anggapan bahwa satu suara tidak akan memengaruhi hasil pemilu perlu diluruskan. Setiap suara merupakan bagian dari keseluruhan suara rakyat yang pada akhirnya berkontribusi terhadap hasil pemilihan.
Pesan tersebut menjadi penting bagi pemilih muda karena keputusan untuk menggunakan atau tidak menggunakan hak pilih dapat menjadi bagian dari kualitas demokrasi. Karena itu, generasi muda perlu memahami hak dan tanggung jawabnya sebagai warga negara sebelum menentukan pilihan.
Sementara itu, Windari, S.H., M.H., dosen Prodi HTN STAIMAS Wonogiri, menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan KPU dalam memberikan pendidikan demokrasi kepada generasi muda.
Menurut Windari, masih terdapat pandangan di kalangan anak muda bahwa suara yang mereka berikan tidak akan membawa perubahan. Pemikiran semacam itu dapat mendorong sikap apatis terhadap pemilu. Karena itu, edukasi pemilih perlu dilakukan agar generasi muda memahami bahwa mereka memiliki hak sekaligus tanggung jawab untuk menentukan pilihan politik secara sadar.
“Generasi muda perlu memahami posisi dan tanggung jawabnya sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki hak untuk menentukan pilihan. Dengan pemahaman yang baik, diharapkan mereka tidak apatis terhadap pemilu dan mampu menggunakan hak pilih secara bijak serta bertanggung jawab,” jelasnya.
Sosialisasi tidak berhenti pada penyampaian materi. Peserta juga diberikan ruang untuk berdiskusi melalui sesi tanya jawab interaktif.
Sejumlah persoalan mengenai pemilu dan posisi pemilih menjadi bahan pembahasan. Keyla, salah satu peserta mengajukan pertanyaan kepada narasumber yang kemudian dijawab langsung oleh Doni Hafidhian dari KPU. Penjelasan tersebut sekaligus menjadi tambahan wawasan bagi peserta lain yang memiliki persoalan serupa.
Melalui kegiatan tersebut, Kelompok 1 KPM STAIMAS Wonogiri berharap edukasi demokrasi dapat menjadi bekal bagi generasi muda Desa Pokoh Kidul untuk menghadapi proses politik secara lebih dewasa.
Pemilih muda diharapkan tidak hanya datang ke tempat pemungutan suara dan memberikan suara, tetapi juga memahami pentingnya memilih secara rasional, kritis, dan bertanggung jawab. Mereka juga diharapkan mampu menjadi bagian dari masyarakat yang aktif menjaga kualitas demokrasi.
Sosialisasi Pemilu Muda tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pengabdian mahasiswa di tengah masyarakat tidak hanya berkaitan dengan kegiatan sosial, tetapi juga dapat diwujudkan melalui pendidikan demokrasi dan penguatan literasi politik generasi muda.(Della Puspita Wanda Hasan)