Beranda / Sinergi Nyata Membangun Desa, Pemdes Sendangijo Gandeng Mahasiswa KPM STAIMAS dan KKN UndIP dalam Seminar Parenting

Sinergi Nyata Membangun Desa, Pemdes Sendangijo Gandeng Mahasiswa KPM STAIMAS dan KKN UndIP dalam Seminar Parenting

Berita STAIMAS

Sinergi Nyata Membangun Desa, Pemdes Sendangijo Gandeng Mahasiswa KPM STAIMAS dan KKN UndIP dalam Seminar Parenting
Pengabdian
Saturday, 15 August 2026
Redaksi PAI

Sinergi Nyata Membangun Desa, Pemdes Sendangijo Gandeng Mahasiswa KPM STAIMAS dan KKN UndIP dalam Seminar Parenting

WONOGIRI — Pendopo Desa Sendangijo, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, tampak semarak pada Selasa, (11/8/2026). Ratusan wali murid dari SD Negeri 1 dan 2 Sendangijo serta TK Pertiwi 1 dan 2 mengikuti seminar parenting yang mengangkat tema pengasuhan anak dan psikologi keluarga.

Kegiatan tersebut menjadi wujud sinergi antara Pemerintah Desa Sendangijo, mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Sekolah Tinggi Agama Islam Mulia Astuti (STAIMAS) Wonogiri, dan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip). Kegiatan juga dihadiri jajaran pengurus PKK Desa Sendangijo.

Kepala Desa Sendangijo, Wagino, S.T., bersama unsur pemerintah desa memberikan dukungan terhadap kegiatan edukatif tersebut. Kehadiran mahasiswa dari dua perguruan tinggi menjadi bagian dari upaya menghadirkan edukasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya dalam membangun pola pengasuhan yang tepat sejak anak berada pada usia dini.

Seminar menghadirkan Dewi Agustini, S.Sos., M.M., sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, Dewi menekankan bahwa perkembangan anak tidak dapat dilepaskan dari pengalaman dan pola pengasuhan yang diterimanya sejak kecil.

Mengutip pandangan psikologi yang diperkenalkan melalui ungkapan Sigmund Freud, The Child is the Father of the Man, Dewi menjelaskan bahwa pengalaman masa kanak-kanak memiliki pengaruh terhadap pembentukan kepribadian dan perilaku seseorang ketika dewasa. Karena itu, pengasuhan pada masa awal kehidupan menjadi fondasi penting yang perlu mendapatkan perhatian serius dari orang tua.

Dewi juga menjelaskan bahwa persoalan perilaku pada masa remaja tidak selalu muncul secara tiba-tiba. Pola perilaku yang berkembang sejak masa kanak-kanak dapat berlanjut dan memengaruhi perkembangan anak pada tahap berikutnya. Oleh sebab itu, orang tua perlu mengenali karakter dan kebutuhan anak pada setiap fase perkembangannya.

Pada fase balita dan prasekolah, misalnya, anak dapat menghadapi sejumlah persoalan seperti tantrum ekstrem, kesulitan bersosialisasi, dan masalah makan. Tantrum dapat muncul dalam bentuk ledakan emosi yang disertai perilaku agresif, seperti memukul, menggigit, menyakiti diri sendiri, atau sulit mengungkapkan emosi secara verbal.

Sementara itu, perilaku egosentris yang berlebihan juga dapat membuat anak mengalami kesulitan dalam memahami konsep berbagi dan berinteraksi dengan teman sebaya. Kondisi tersebut perlu direspons orang tua dengan pendampingan yang tepat, bukan semata-mata dengan hukuman.

Persoalan lain yang banyak dihadapi orang tua adalah anak yang susah makan. Dalam sesi tersebut, Dewi memberikan sejumlah tips praktis, di antaranya mengatur waktu makan dan menghindari pemberian camilan berlebihan, serta membiasakan pola tidur yang teratur agar anak memiliki rutinitas harian yang lebih baik.

Memasuki usia matang kanak-kanak, sekitar 9–10 tahun, tantangan perkembangan anak juga mulai berubah. Pada fase ini, tekanan teman sebaya (peer pressure) menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Anak mulai memiliki kebutuhan yang kuat untuk diterima oleh kelompoknya sehingga dalam kondisi tertentu dapat terdorong meniru perilaku teman, termasuk perilaku yang kurang baik.

Dewi juga mengingatkan orang tua mengenai persoalan perundungan atau bullying yang dapat dialami anak, baik dalam bentuk verbal, sosial maupun fisik. Anak yang menjadi korban maupun pelaku perundungan sama-sama membutuhkan perhatian dan pendampingan dari orang tua.

Selain itu, kecemasan akademis juga dapat muncul ketika tuntutan sekolah semakin kompleks. Tekanan menghadapi ujian, tugas sekolah, atau kekhawatiran terhadap prestasi dapat menimbulkan stres pada anak. Karena itu, komunikasi terbuka antara orang tua dan anak menjadi penting agar berbagai persoalan dapat diketahui dan ditangani sejak dini.

Dalam konteks pengasuhan keluarga, Dewi juga menekankan pentingnya sinergi antara ayah dan ibu. Orang tua perlu membangun komunikasi yang baik dalam mendampingi anak, termasuk dalam menentukan cara memberikan nasihat. Peran ayah sebagai salah satu figur penting dalam keluarga perlu diperkuat, sementara ibu dan ayah hendaknya saling berkoordinasi agar pesan pengasuhan yang diterima anak tidak saling bertentangan.

Para peserta tampak antusias mengikuti seminar. Materi yang disampaikan tidak hanya memberikan pemahaman mengenai teori perkembangan anak, tetapi juga menghadirkan contoh persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari keluarga.

Seminar parenting tersebut menunjukkan bahwa penguatan kualitas sumber daya manusia dapat dimulai dari lingkungan paling dekat dengan anak, yakni keluarga. Ketika orang tua memiliki pemahaman yang baik mengenai tahapan perkembangan anak, mereka akan lebih siap memberikan pendampingan sesuai dengan kebutuhan anak pada setiap fase pertumbuhannya.

Kolaborasi Pemerintah Desa Sendangijo, STAIMAS Wonogiri, dan Undip melalui kegiatan tersebut sekaligus menjadi contoh nyata bahwa perguruan tinggi dapat mengambil peran dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat tidak hanya menjadi bagian dari pelaksanaan pengabdian, tetapi juga menjadi jembatan untuk menghadirkan pengetahuan akademis yang aplikatif bagi keluarga.

Melalui kegiatan tersebut, diharapkan para orang tua semakin memahami bahwa mendidik anak bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga membangun karakter, kemampuan sosial, kesehatan emosional, serta kesiapan anak menghadapi berbagai tantangan pada setiap tahap perkembangannya. (Melysa Linda Sary)

Post Selanjutnya → Tidak ada berita selanjutnya